Hasil Survei LSI Lampu Merah untuk Masa Depan Partai Islam

Minggu, 14 Oktober 2012 18:00:46 WIB
Reporter : -


Jakarta--Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network merilis hasil survei mengenai partai politik Islam di kantornya, Jalan Pemuda 70, Rawamangun, Jakarta Timur, Minggu (14/10/2012).

Hasilnya, hampir semua partai Islam mengalami penurunan yang sangat drastis. Bahkan, dari hasil survei juga terungkap parpol Islam tidak masuk dalam lima besar jika pemilu diselenggarakan hari ini.

"Partai Islam merosot dibawah 5%, tidak ada satupun parpol Islam yang memperoleh 5%. Partai Islam adalah yang berbasis agama, dan atau basis utamanya adalah Islam," jelas peneliti LSI, Adjie Al Faraby.

Menurut dia, dari survei yang dilaksanakan 1-8 Oktober 2012, dari 1.200 responden yang disurvei menempatkan lima partai nasionalis sebagai pemenang jika pemilu digelar hari ini. Kelima partai nasionalis tersebut adalah Partai Golkar sebesar 21,0%, PDIP 17,2%, Partai Demokrat 14,0%, Partai Gerindra 5,2% dan Partai NasDem sebesar 5,0%.

"Lima besar parpol berbasis nasional atau kebangsaan adalah partai yang berasaskan Pancasila atau basisnya adalah nonagama," tutur Adjie.

Beberapa alasan mendasar yang menyebabkan turunnya partai Islam tersebut, pertama menyangkut keinginan masyarakat yang tidak menginginkan politik nasional beraroma agama. Penegasan ini didasarkan atas angka sebesar 67,8% pemilih Muslim yang lebih memilih partai nasionalis.

"Islam Yes, Partai Islam No, jargon ini sudah menjadi kenyataan. Bukan sekadar ide atau gagasan yang disampaikan Cak Nur (Nurcholish Madjid)," kata dia.

Kedua, menyangkut pendanaan partai nasionalis lebih kuat daripada pendanaan partai Islam. Tercatat 85,2% publik menilai partai Islam kurang memiliki banyak modal dibanging partai nasionalis. Ketiga, lanjut Adjie, yakni adanya aksi anarkhisme yang mengatasnamakan kelompok Islam. Tercatat 46,1% publik percaya merosotnya partai Islam karena anarkhisme oknum yang membawa label agama.

"Alasan keempat, karena partai nasionalis semakin mengakomodasi kepentingan dan agenda kelompok Islam. 57,8% publik percaya hal itu," tambah Adjie.

Tren penurunan partai Islam jika pemilu digelar hari ini juga berdampak serius pada penurunan tingkat elektabilitas calon presiden dari partai Islam itu sendiri. Tokoh-tokoh populer partai Islam kalah pamor dari tokoh-tokoh partai nasionalis.

"Tokoh-tokoh partai Islam seperti Hatta Rajasa, Suryadharma Ali, Muhaimin Iskandar, dan Lutfi Hasan memiliki tingkat pengenalan rendah, rata-rata masih di bawah 60%-an," ungkap Adjie Al Alfarabi.

Berbanding terbalik dengan tokoh partai Islam, tokoh-tokoh partai nasionalis seperti Megawati Soekarnoputri, Aburizal Bakrie, Prabowo Subianto, dan Wiranto tingkat popularitasnya di atas 60%.

Rendahnya popularitas tokoh partai Islam, kata Adjie, berpengaruh terhadap dukungan publik terhadap mereka. Survei yang dilakukan LSI pada 1 - 8 Oktober 2012 dengan 1.200 responden menunjukkan, dukungan terhadap tokoh partai politik Islam masih di bawah 5%. "Hatta Rajasa 3,2%, Muhaimin Iskandar 0,3%, Suryadarma Ali 2,1% dan Lutfi Hasan Ishaaq 0,8%," tuturnya.

Adapun dukungan terhadap tokoh dari partai nasionalis rata-rata mencapai prosentase di atas 15%. Yakni Megawati Soekarnoputri 20,2%, Prabowo Subianto 19,3% dan Aburizal Bakrie 18,1%.

Jika kondisi dalam survei ini tetap bertahan, lanjut Adjie, maka peluang tokoh partai Islam untuk maju sebagai calon presiden pada Pemilu 2014 sangat kecil. Karena dengan perolehan suara seperti itu, maka tokoh partai Islam hanya akan menjadi capres divisi tiga.

"Capres divisi tiga adalah capres yang dukungan terhadap partai politik maupun kandidat presidennya masih kecil. Capres divisi tiga juga bukan berasal dari tiga partai besar perolehan suara," tutur Adjie. [air]
Previous article
Next article

Belum ada Komentar

Posting Komentar

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel