Nadi Suprapto, Anak Petani Jadi Guru Besar Termuda Unesa

Dosen FMIPA Unesa Prof. Nadi Suprapto menjadi yang termuda dari empat guru besar yang dikukuhkan Rektor Unesa. Foto/Laman Unesa.

SURABAYA - Nadi Suprapto menjadi yang termuda dari empat guru besar yang telah dikukuhkan Rektor Universitas Negeri Surabaya ( Unesa ). Nadi Suprapto merupakan anak petani yang juga dosen di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unesa

Dia berasal dari Sidoarjo yang dikukuhkan sebagai guru besar bidang Pendidikan Fisika di usianya yang ke-41 tahun. Capaian yang sangat luar biasa dan diperoleh dari perjuangan dan pengorbanan. “Saya berasal dari keluarga petani yang selalu dididik untuk bekerja keras. 

Saat SMA, saya selalu menggembala kerbau dari sawah ke sawah. Hal itu yang membuat semangat saya semakin terpacu dan betul-betul bekerja keras sampai di titik ini,” katanya, dikutip dari laman Unesa, Rabu (28/12/2022). 

Perjalanan karier akademik Nadi itu berawal dari jenjang sekolah dasar yang ditempuh di SD Negeri Sambungrejo 01 dan MI Al-Falah Sambungrejo. Jenjang selanjutnya ia selesaikan di SMP Negeri 2 Sukodono. Lalu, jenjang menengah atas diselesaikan di SMA Negeri 1 Taman, Sidoarjo.

Pada 1999, dia kuliah program sarjana di Pendidikan Fisika, FMIPA Unesa dan lulus tahun 2003. Tak berselang lama, dia melanjutkan kuliah di Pascasarjana Unesa prodi Pendidikan Sains konsentrasi Fisika, lulus tahun 2006. Nadi kemudian berkesempatan mengikuti short course melalui Bridging Program, Dikti selama tiga bulan di National Dong Hwa University, Taiwan pada 2013. 

Kesempatan ini benar-benar dimanfaatkannya hingga bisa melanjutkan pendidikan jenjang doktor di kampus tersebut pada 2014 dan meraih gelar Ph.D., pada 2017. “Saya selalu meresapi yang dikatakan oleh guru saya, untuk menjadi guru dari para guru. Sebagai dosen saya akan terus memberikan yang terbaik dan berbeda dari yang lain,” ucapnya. 

Pria yang sudah 17 tahun mengabdi di Unesa ini menyampaikan, kesuksesannya tersebut tidak lepas dari doa serta dukungan orang tua, keluarga, masyarakat dan teman sejawat. Kuncinya menjadi guru besar di usia yang terbilang muda ini tidak lepas dari ketekunannya dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi dengan sebaik-baiknya yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. 

Setelah menjadi guru besar, Nadi komitmen untuk semakin menjalankan tugasnya dengan baik, termasuk terus melahirkan karya-karya dan publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi. “Alhamdulillah sudah ada sekitar 87 publikasi di jurnal bereputasi. Kalau yang internasional dan nasional Alhamdulillah lumayan banyak dan di Unesa urutan kedua sebagai pemilik publikasi jurnal bereputasi,” bebernya.

Apa target berikutnya? Prof Nadi menjawab untuk target pribadi sebenarnya sudah melampaui target setelah berhasil mendapat gelar tertinggi akademik tersebut. Target selanjutnya adalah membawa Unesa sejajar dengan kampus-kampus lainnya di dunia. Karena itu, jabatan yang diamanahkan kepadanya yaitu Ketua Satuan Klasterisasi dan Pemeringkatan Perguruan Tinggi Unesa benar-benar dimanfaatkan untuk mencapai tujuan tersebut. 

“Target sekaligus tantangannya adalah membawa Unesa mencapai rekognisi internasional. Dalam dua tahun terakhir, Alhamdulillah ada peningkatan signifikan di Unesa. Awalnya tidak masuk di pemeringkatan dunia sampai bisa masuk dan berjejer dengan kampus lain di pemeringkatan internasional,” ucapnya. 

Salah satu upayanya mengenalkan Unesa di mata dunia selain mengikuti pemeringkatan, juga menjadi host dan meluncurkan tiga pemeringkatan yaitu Unesa-Dimetric dalam bidang disabilitas, Unesa-Sporttric dalam bidang olahraga dan Unesa-Artric dalam bidang seni dan budaya. Yang pertama diluncurkan pada 15 Agustus 2022 dan sudah diumumkan hasilnya pada 9 Desember 2022 lalu. Dua terakhir diumumkan kemarin saat pengukuhan guru besar tersebut.

Dikutip dari SINDO.News
Previous article
Next article

Belum ada Komentar

Posting Komentar

Ads Atas Artikel

Ads Tengah Artikel 1

Ads Tengah Artikel 2

Ads Bawah Artikel